MAKASSAR — Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar Zuhaelsi Zubir menyatakan persoalan kekeringan tidak semata-mata berkaitan dengan rendahnya curah hujan. Menurutnya, pemerintah berkewajiban menyiapkan SPAM untuk kebutuhan jangka panjang, terutama menyangkut ketersediaan dan distribusi air bagi warga Kota Makassar.
Pembangunan 40 titik SPAM itu dirancang bertahap. Sebanyak 14 lokasi masuk rencana 2025, 10 lokasi pada 2026, dan 16 lokasi pada 2027.
Mengapa SPAM Jadi Strategi Jangka Panjang?
Zuhaelsi menilai ketersediaan sumber air dan sistem distribusi yang mampu menjangkau seluruh masyarakat menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Langkah ini kian relevan di tengah musim kemarau yang berdampak pada sejumlah wilayah Kota Makassar.
Pemerintah kota tidak hanya mengandalkan penanganan darurat berupa distribusi air melalui mobil tangki. Infrastruktur penyediaan air mulai diperkuat agar masyarakat memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan secara bertahap.
Kolaborasi Dinas PU, BPBD, dan PDAM
Dinas PU melakukan langkah antisipasi melalui penguatan infrastruktur air bersih dan kolaborasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan PDAM.
Upaya itu diarahkan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan dampak kekeringan selama musim kemarau.
"Sehingga kami dari Dinas PU Kota Makassar juga terus melakukan langkah-langkah antisipasi, bekerja dengan kolaborasi, dan memastikan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat terhadap air terpenuhi," jelas Zuhaelsi.
Sasaran: Kawasan Belum Terjangkau Layanan PDAM
Zuhaelsi menjelaskan, salah satu langkah strategis Dinas PU adalah pembangunan SPAM pada kawasan yang belum terjangkau atau belum mendapatkan layanan distribusi PDAM secara optimal.
Dengan skema bertahap 2025–2027, pemerintah kota menargetkan penambahan titik layanan air bersih di wilayah-wilayah yang selama ini mengandalkan pasokan darurat saat kemarau datang.